Yogyakarta, (Dayatel) – Internet dan computer bukanlah barang mewah dan bisa dinikmati seluruh masyarakat indonesia. Untuk itulah maka dalam hal ini Ditjen Aplikasi Telematika (APTEL) terus menggalakan pengembangan teknologi informasi ke desa-desa, agar MII (masyarakat informasi Indonesia Tahun 2020 segera terwujud). Hal itu dikatakan Direktur Pemberdayaan Telematika Bambang Soeprijanto dalam “Worshop Pengembangan Internet Desa Melalui Konvergensi Radio Komunitas Dengan Internet nirkabel (wajan bolik)” di Hotel Grage Yogyakarta. “Untuk mencapai semua itu diperlukan peran masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi dan pemerintah.”katanya. Janganlah kita ini gagap teknologi hanya karena pemerintah kurang maksimal mengupayakan pengenalan dan pemanfaatan teknologi, kita jangan menunggu pemerintah menyediakan infrastruktur , tidak harus menungu investor asing membangun infrastruktur pedesaan. Sebab pola piker yang demikian akan sulit menjadi bangsa yang bersaing dalam era globalisasi informasi.”jelasnya. Jangan heran ke depan hasil kekayaan kita seperti kebudayaan dan lain-lain akan dinikmati dan dimiliki oleh Negara lain”tandasnya. Lebih lanjut dikatakan, menghadapi tantangan tersebut suka tidak suka masyarakat harus terus belajar ICT agar ke depan tidak menjadi bangsa yang harus menunggu orang lain maju. “Musuh kita yang paling signifikan adalah kebodohan, kita tidak mau menunggu dan terus menungu, itulah kelemahan kita”katanya. Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota budaya diharapkan mampu mengolah sumberdaya manusia menjadi manusia yang mengusai teknologi informasi. Hal ini tercermin dari kreasi dan inovasi rakyat Yogyakarta yang terus menerus mengembangkan internet dengan biaya murah sehinga masyarakat perdesaan bisa menikamatinnya. “Perkembangan internet desa melalui konvergensi radio komunitas dengan internet nirkabel adalah bukti nyata telah dikembangkan di daerah ini”ujarnya. *** Sementara itu KetuaPelaksana kegiatan Mansyur Syahran dalam laporanya menjelaskan, pengembangan internet desa melalui konvergensi radio komunitas dengan internet nirkabel (wajan bolik) merupakan system perpaduan dari siaran radio kominitas dengan infrastruktur internet berbasis teknologi nirkabel. Radio siaran akan berfungsi sebagi ujung tombak media yang mampu menjangkau seluruh warga desa mengingat pesawat radio yang relative murah. Sedangkan teknologi internet akan berfungsi untuk menjembatani interaksi warga dengan dunia luar. Selain infrastruktur jaringan computer nirkabel yang terpasang di sejumlah titik akan berfungsi sebagai intfanet desa. Rencana infranet desa akan bermuara pada sebuah data base yang berisi berbagai informasi seperti peta potensi wilayah berbasis system informasi geografis yang datanya akan diinput dari tingkat RT. Sistem ini dinilai mempunyai beberapa kelebihan diantaranta; koneksi internet yang terdistribusi akan memudahkan warga untuk bias memanfaatkan internet dengan mudah karena tidak harus dating ke lokasi sentral. Peralatan pada sejumlah lokasi akan meringankan beban listrik dan memudahkan perawatan dan pengamanan, beban ditangung kolektif sehingga lebih menjamin keberlanjutan. Warga tidak hanya sebagai end user tetapi dituntut untuk bias menguasai teknologi yang mereka gunakan. Dengan demikian proses alih teknologi akan berjalan dengan cepat dan luas. Wokshop diikuti oleh 30 peserta, 15 merupakan pengurus aktif angkringan, sedangkan 15 lainnya berasal dari radio komunitas yang tergabung dalam saluran informasi akar rumput (SIAR). Dalam worshop diberikan beberapa materi antara lain; pengenalan jaringan computer, perangkat - perangkat computer serta pemanfaatanya, file sharing, chating, web komunitas, remote desktop, telpon internet (VOIP) dan video/audio streaming. Di hari berikutnya diajarkan cara membuat wajan bolik , memasangnya dan mengkoneksikan dengan computer. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti semua rangkaian kegiatan. (tri).