Yogyakarta, (Dayatel) -. Dengan munculnya teknologi informasi seakan sekat antar bangsa semakin tipis, semaua yang terjadi di belahan dunia dapat di ketahui dalam waktu hampir bersamaan. Namun sayang sekali teknologi yang serba canggih dan cepat belum digunakan secara merata oleh masyarakat. Terpaan teknologi informasi yang semakin deras diperlukan kesiapan dari semua pihak. Hal itu dikemukakan oleh Sunaryo, Direktur MMTC Yogyakarta di RRI Pro 2 Yogyakarta. Lebih lanjut dikatakan, teknologi informasi dalam hal ini internet memang berdampak positif dan negative, untuk itu sebaiknya jangan dilihat dari sisi negatifnya saja, agar tidak terlalu khawatir penggunaan internet di level anak-anak kita. Kita harus berfikiran positif bahwa internet merupakan lautan ilmu pengetahuan tanpa batas. Konvergensi teknologi sebenarnya telah tercermin dalam perangkat telepon genggam, dengan telepon genggam seseorang bisa melakukan kegiatan apa saja. Konsep teknologi bukan karena kebutuhan tetapi lebih kepada gaya hidup atau sekedar untuk menunjukan status social pemiliknya /gengsi. Pembentukan karakter bangsa "National and character Building" kurang digalakan sehingga conten lokal belum banyak muncul dan biasanya lebih banyak ditulis oleh orang luar ketimbang orang Indonesia. Sementara itu penguasaan bahasa asing yang kurang akan mempersempit wawasan pengakses teknologi informasi. Hal ini bukan hanya menjadi tangung jawab Depkominfo tetapi tanggung jawab. *** Sementara itu dari kalangan akademisi Sri Rejeki, mengatakan bahwa pengertian dan manfaat ICT belum diketahui masyarakat banyak. Terjadi lompatan dari era manual tiba-tiba ke era teknologi. Pendidikan masa dulu tidak menyentuh ICT. "Meski kita dulu tidak mengerti teknologi informasi, tetapi mau tidak mau kita harus siap menerima kehadiran teknologi informasi meski untuk generasi tua sudah agak terlambat. Untuk itu diperlukan pemahaman dan pembelajaran yang dimulai dari diri sendiri dan kemudian di tularkan kepada orang lain dengan pendampingan" jelasnya. "Sebaiknya orang tua terlebih dahulu mempelajari dan mengunakan teknologi informasi."imbuhnya. Sementara itu ditekankan pula kepada kaum perempuan untuk mendampingi putranya dalam akses intenet; sebaiknya anak diperkenalkan internet sejak dini serta sudah di tanamkan conten apa yang perlu dan tidak perlu untuk diakses, sehingga anak memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh. Demikian juga kaum poerempuan/ibu2 harus belajar mengenai ICT khususnya pemanfaatan internet, agar bisa memberikan pendampingan kepada putranya. Pengalaman untuk akses internet bagi ibu perlu, agar kekawatiran yang berlebihan tentang manfaat negative internet dapat diminimalisir. Interaktif dari kalangan mahasiswa menanyakan kesiapan infrastruktur dan aplikasi di Indonesia. Sunaryo mengatakan, Depkominfo melalui Ditjen Postel mentargetkan desa berdering dan desa pintar (desa punya bisa internet) pada 2010 dan 2015, sementara Palapa ring yang akan menghubungkan pulau-poulau di indoensia dalam satu kesatauan NKRI juga mulai digarap. Akses internet nirkabel kecepatan tinggi wimax juga diluncurkan, Mobil wartel-warnet keliling (M-CAP), Community Access Point (CAP) dengan bantuan perangkat computer gratis ke beberapa kelompok masyarakat dengan pendampingan juga merupakan usaha pemerintah dalam memberdayakan masyarakat terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi. ICT sendiri hanyalah konsep, perlu pemahaman dan penjabaran dalam tindakan nyata. Sementara itu beberapa masukan dari hasil dialog interaktif antara lain; filosofi utama ICT harus memudahkan kita serta dapat pempererat persatuan dan kesatuan bangsa. ICT tidak hanya internet saja tetapi meliputi berbagai bidang ada. Pemanfaatan milis, blog, bulletin board, diskusi dan sharing informasi seputar teknologi sangat diperlukan. Adanya teknologi baru apapun perlu pendampingan mainset perlu dirubah. Berkaitan dengan pemblokiran situs dijelaskan hanya bermain di kata kunci. Peran serta masyarakat, untuk meminimalisir anak-anak, remaja mengakses situs negative sangat diperlukan. Paling bagus bila tidak ada protek, kesadaran masyarakatlah yang memprotek situs negative. Berfikir positif terhadap manfaat internet lebih baik dari pada klekahwatiran yang berlebihan. (B.Tri)