| TEKNOLOGI SAPUJAGAT TELEPON GENGGAM CERMIN KONVERGENSI
|
Jakarta, (Aptel) – Konvergensi ICT sebenarnya telah tercermin dalam telepon genggam atau HP. Bahkan telepon genggam merupakan teknologi "sapu jagad" yang memudahkan seseorang untuk melakukan berbagai keperluan perkantoran, bisnis dan lainnya hanya dengan satu perangkat kecil di genggamannya. Hal itu dikatakan Febri Novalenti.S.SI.MT dari kalangan akademisi pada dialog interaktif di TVRI Yogyakarta, dengan tema "Semangat Kartini Dan Kebangkitan Nasional, Kita menuju Keungulan Bangsa Dalam Era Konvergensi ICT". Senin (28/04).
"Konvergensi ICT sebenarya telah tercermin dalam teknologi yang sekarang lagi boming dan semua lapisan masyarakat menggunakannya yakni Hand Phone (HP). Dengan HP orang bisa melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hadirnya teknologi juga harus diimbangi dengan pemahaman yang benar mengenai pemanfaataanya. Sementara penanaman akar budaya yang kuat sangat diperlukan sehingga ICT tidak dianggap membahayakan lunturnya budaya local".katanya.
Lebih lanjut dikatakan, dalam memperkenalkan teknologi informasi khususnya internet di dalam keluarga perlu dilakukan secara cermat, sebab moment pengenalan pertama dunia ICT sangat penting, karena hal ini disinyalir menjadi tonggak yang paling penting dalam ingatan pengguna (anak). Bila pertama dikenalkan dengan manfaat – manfaat ICT secara baik, maka manfaat ICT akan membekas dibenaknya bahwa ICT memberikan banyak manfaat. Tetapi sebaliknya bila pengenalan ICT untuk yang pertama kalinya mengarah hal-hal yang negative tentunya akan diingat terus bahwa ICT kurang bermanfaat.
"Permasalahannya adalah bahwa kita tidak bisa mengendalikan semua orang. Dalam keluarga saja kita tidak bisa mengendalikan semua anak2 kita. Peran kaum perempuan terutama Ibu-ibu rumah tangga dalam mendidik generasi sangatlah besar. Untuk itu ibu-ibu harus tahu bagaimana mengunakan ICT agar bisa memberikan pendampingan kepada anaknya; Sedangkan kelemahanya, pada kenyataannya tidak semua Ibu-ibu pernah dan tahu cara mengakses intenet" jelasnya.
Berkaitan dengan sejauhmana kaum perempuan dalam menyikapi adanya teknologi informasi, Febri mengatakan bahwa pada dasarnya manusia dalam menerima teknologi tidak ada perbedaan gender. Sedangkan yang menjadi masalah adalah tanggung jawab pendidikan, biasanya lebih dibebankan kepada kaum perempuan. Hal ini dirasa suatu pandangan yang salah karena sejatinya peran ayah juga harus ada. Berkaiatan dengan persepsi bahwa perempuan dirasa lamban dalam menerima teknologi baru, Febri menjelaskan, hal itu terjadi karena paradigma yang selama ini muncul hak-hak wanita secara kodrati selalu terpinggirkan; misalnya hak untuk memimpin, memperoleh pendidikan dan sebagainnya. Paradigma perempuan diindentikan dengan ibu rumah tangga yang pekerjaannya hanya seputar "sumur, dapur dan kasur". Bagi wanita karier penguasaan teknologi tidak akan begitu bermasalah, ia akan luwes dan menerima teknologi baru sebagai bagian dari pekerjaanya. Sedangkan perempuan yang berperan sebagai Ibu rumah tangga yang gaptek, akan sulit mengkontrol serta mengarahkan anak-anaknya manakala tidak tahu efek negative internet.
Menyinggung masalah perkembangan ICT yang dinilai mengekploitasi kaum perempuan, menurut Febri yang salah bukan ICTnya, karena ICT hanyalah media atau alat. Sedangkan media untuk menyebarkan fenomena kekerasan dan ekploitasi perempuan ada di semua sektor kehidupan tidak hanya di lingkup ICT.
Semangat Kartini dan Kebangkitan nasional memang patut menjadi spirit dalam konvergensi teknologi. Tetapi hendaknya semangat; tersebut juga di aplikasikan untuk mengisi konten dengan pendekatan atau menampilkan budaya local. Disatu sisi situs yang menggelorakan semangat nasionalisme ini masih sangat kurang, tetapi sebenarnya semangat nasionalisme juga masih terpelihara dengan baik di sebagian kelompok masyarakat. Hal itu ditandai dengan ramainya pembicaraan di milis maupun blog yang mengecam keras ketika kesenian Reog diakui milik Malaysia, untuk itu peran pemerintah sangatlah penting.
***
Sementara itu pembicara dari Depkominfo dalam hal ini diwakili Direktur MMTC Yogyakarta Sunaryo mengatakan, era kovergenti dimulai dengan adanya "workman", "gameboard" yang menyebabkan orang asik dengan duniannya sendiri. Untuk itu agar tidak hidup dalam duniannya sendiri perlu adanya edukasi dan pendampingan untuk interaksi dengan orang lain. Perlu dipikirkan bagaimana secara bersama-sama mengedukasi masyarakat bahwa teknologi benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat . setiap adanya teknologi baru harus ada pendampingan. Tanpa pendampingan akan sia-sia. Banyak hal yang bisa digali dan didapat (melalui konvergensi); antara lain bisa jualan di internet, mengakses data bahkan radio Televisi secara online.
Sementara itu penggalangan semangat kebangsaan sebaiknya juga bisa dilakukan melalui berbagai media termasuk media internet. Karena teknologi konvergensi sudah bisa di temukan pada media internet yang memuat berbagai media secara online (TV, Radio, Koran versi online, Blog, Portal dll).
Bapak Herlambang (pemirsa) memberikan masukan seputar tema dialog bahwa dengan peringatan Hari Kartini diharapkan kaum perempuan dalam menuntut kebebasan, tanpa melupakan kodratinya sebagai perempuan. Semangat Harkitnas diharapkan membentuk jiwa nasionalisme yang tinggi yang ditandai dengan terpeliharanya semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI. Karakter ini yang harus ditanamkan kepada kalayak ramai. Lunturnya semangat nasionalisme memang tidak bisa dipungkiri sebab selama 32 tahun tidak ada penanaman "Nation and Character Building". Kejiwaan, patriotisme tidak ditanamkan.
Penelpon yang lain mengatakan, secara tidak sadar, konvergensi teknologi yang tercermin dalam HP memang sudah sangat lekat dengan kehidupan masyarakat di berbagai lapisan. Suatu contoh jika seseorang ketika mau berangkat kerja ketinggalan dompet, mungkin masih tidak akan kembali lagi untuk mengambilnya. Tetapi jika yang ketinggalan HP pasti akan terasa ada yang kurang. Teknologi aplikasi hendaknya juga banyak diciptakan oleh anak bangsa sehingga tidak hanya dipergunakan untuk kesejahteraan bangsa, lebih dari itu diharapkan ekspor software atau aplikasi local hendaknya mulai digalakan.
Informasi yang masuk sebaiknya disaring, banyak manfaatnya atau mudarotnya. Jika banyak mudarotnya lebih baik diblokir, untuk meminimalisir dampak negative, meski cara ini tidak sepenuhnya efektif. Masalah ini sebaiknya di sikapi bersama-sama dengan arif, biar informasi yang dating ke rumah itu bermanfaat. Diperlukan keraifan dan peran serta seluruh komponen bangsa agar pornografi yang hingga sekarang belum jelas definisinya bisa diminimalisir.
Di akhir dialog beberapa masukan disampaikan diantaranya; memberikan apa yang diperlukan masyarakat, bukan apa yang diinginkan masyarakat agar lebih baik. Pemerintah diharapkan menggerakkan kegiaran dalam rangka menyongsong era konvergensi, dengan membuat instrument yang jelas agar semua lapisan masyarakat terlibat dan merasakan manfaatnya. Acara seperti dialog interaktif ini sangat bermanfaat karena merupakan salah satu bentuk edukasi secara langsung untuk masyarakat luas. (tri).
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|