Semarang, (APTEL) – Permasalahan SDM yang kita hadapi sekarang ini adalah kesenjangan dalam memanfaatkan teknologi telematika atau kita kenal dengan ”digital devide” antara SDM di pusat dan daerah serta antar daerah, antar kelompok masyarakat serta antara laki-laki dan perempuan. Kesenjangan ini berpengaruh timbal balik dengan kesenjangan intelektual dan kesenjangan kesejahteraan. Kemampuan intelektual dan kesejahteraan mempengaruhi kemampuan pemilikan, sedangkan peningkatan kemampuan menggunakan teknologi telematika akan meningkatkan akses terhadap informasi yang pada gilirannya meningkatkan kembali intelektual dan kesejahteraan. Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Aplikasi Telematika, Depkominfo Cahyana Ahmadjayadi dalam sambutannya yang dibacakan Kasubdit Pemberdayaan Usaha Telematika Mansyur Syahran di Hotel Pandanaran Semarang, Senin (12/11). Dengan demikian bagi mereka yang secara intelektual dan kesejahteraannya tidak cukup untuk memiliki dan mengakses teknologi informasi, maka semakin tertinggal. Dalam kontek inilah diperlukan peranan yang lebih besar dari berbagai komponen bangsa baik dari lembaga pemerintah pusat dan daerah, lembaga pendidikan, asosiasi di bidang teknologi informasi maupun dunia usaha untuk lebih memberikan perhatian besar dan mencari terobosan guna mengatasi masalah kesenjangan digital. Peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengunakan teknologi informasi telah dilakukan dengan berbagai model diantaranya mengembangkan kelompok informasi masyarakat disingkat KIM yang aktifitasnya melakukan pembelajaran menggunakan teknologi informasi. Disamping itu jaringan informasi masyarakat yang memanfaatkan wartel-warnet juga diberdayakan. Sementara itu pembicara dari Universitas Dian Nusantara Rr.Yupie Kusumawati,SE, mengatakan teknologi informasi akan menjadi penggerak utama dan sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi dunia ke masa depan. ”Hadirnya teknologi hand phone yang tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi saja, tetapi juga mendukung aktifitas lain seperti belanja on line, mobile banking, sarana hiburan dan mendapatkan informasi dari penjuru dunia melalui ”browsing” dan ”searching” lewat internet. Adanya berbagai peluang yang ditawarkan teknologi informasi akam memberikan dampak positif maupun negatif”katanya. Yupie juga menjelaskan bahwa mereka yang mampu memiliki teknologi menjadi penerima manfaat (beneficiares) teknologi, sedangkan yang tidak mampu berada pada lingkaran luar penerima manfaat teknologi. Kondisi inilah yang menjadi penyebab awal (prima causa) dari kesenjangan ekonomi dan sosial. ”Mereka yang mampu menghasilkan teknologi dan sekaligus memanfaatkan teknologi memiliki peluang lebih besar untuk mengelola sumber daya ekonomi, sementara yang tidak memiliki teknologi harus puas sebagai penonton saja. Akibatnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap miskin. Pada sisi lain, teknologi dapat dituduh sebagai penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial ”tandasnya. Lili Musyafa’ah. SPD dari Lembaga Bina Anak yang juga sebagai pembicara di acara tersebut mengungkapkan, bahwa peran perempuan sebagai pengawal jaman atau kalifatullah di dalam dan di luar rumah yang memiliki integritas dan profesionalisme hendaklah mampu memanfaatkan teknologi tanpa melupakan kodratnya. Sementara itu Drs. Bambang Noor AK,MT dari SMK Negeri 6 Yogyakarta, dalam kesempatan tersebut menjelaskan tentang open source sebagai alternatif teknologi informasi yang ”freeware, freesoftware, freeprogram serta sofware terbuka”. Dengan memakai Open Source akan banyak manfaat yang bisa diperoleh antara lain; memberikan gambaran tentang aplikasi, memiliki cakupan lisensi yang luas, memberikan konfigurasi pada setiap program aplikasi, memudahkan membangun server, familiar dalam menangani web atau mail serta software mudah didapat tau diunduh di internet. (B.Tri).