| SEPARUH PENDUDUK INDONESIA SUDAH AKASES INTERNET PADA 2015
|

Jayapura, - (dayatel), Berdasarkan deklarasi WSIS komitmen pemerintah akan mewujudkan Visi Masyarakat Informasi pada 2015, dimana setengah dari penduduk Indonesia harus sudah dapat dan mampu memanfaatkan aplikasi telematika atau sekurang - kurangnya memiliki peluang pemanfaatan akses internet. Hal itu dikatakan Dirjen Aplikasi Telematika pada pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Kampanye Internet Sehat di Hotel Relat Indah, Jayapura, yang dibacakan Direktur Pemberdayaan Telematika Bambang Soeprijanto, Jumat (27/8) yang lalu.
Lebih lanjut dikatakan, akkses internet merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi para pengguna, karena dengan berselancar di internet akan mendapatkan beragam informasi yang ada di dunia ini, mulai dari ilmu pengetahuan, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan, materi pendidikan dan hiburan.
“Banyak hal yang dapat dilakukan melalui internet mulai dari mengotimalkan mesin pencari, pengumpulan data, merancang website, berbagi data dan informasi, chating, vidio converence, koordinasi, rapat secara virtual, membentuk komunitas, rujukan pengambilan keputusan (spesifikasi harga barang elektronik), transaksi elektronik, game, dan pembelajaran.”katanya.
Selain itu beberapa gejala ketergantungan terhadaf internet juga bisa dilihat dari beberapa hal misalnya; menghabiskan waktu di internet, obsesik, gelisah, berkhayal, penarikan diri dari lingkungan. Sambutan Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo yang dibacakan oleh Direktur Pemberdayaan Telematika.
Sementara itu pembicara dari STIKOM Mohammadiyah Jayapura, Andi Asrul mengungkapkan, dari sisi pemerintah sudah terlihat adanya upaya pengenalan dan pemanfaatan TI oleh pemerintah Pusat melalui Kominfo yang dibantu oleh pemerintah daerah dalam hal ini BIKDA, Dinas Infokom dan KPDE sebagai pengganti perpanjangan tangan Kominfo di daerah. Masalah pertama, pemerintah daerah kurang mensuport pemanfaatan IT di bidang pendidikan, misalnya jurusan IT di STIKOM dengan fasilitas seadanya tanpa dukungan infratruktur dari pemerintah. Meski dunia pendidikan di Papua diibaratkan baru merdeka, tetapi dengan kehadiran teknologi informasi proses pembelajaran dan pencerdasan anak didik bisa dilakukan secara masksimal. Kendala lain adalah kurangnya diklat teknis IT, sementara jika ada diklat yang dikirim orang yang kurang mempunyai kemampuan di bidang IT sehingga setelah diklat aplikasinya di lapangan kurang optimal. Internet bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya bisnis pendidikan dan lainnya. Dampak negatif internet tidak usah terlalu dipusingkan karena para pengguna internet akan dewasa dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu.
”Menurut pengamatan beberapa tahun lalu hampir semua user yang menggunakan warnet membuka situs porno, tetapi sekarang sudah mulai terarah, pelajar mahasiswa mengakses internet untuk menyelesaikan tugas sekolah. TI bukan hal yang sulit, berbekal kemauan keras dan mau belajar lewat internet seseorang yang tidak berlatar IT sangat mungkin berkemampuan setara dengan orang IT.”katanya.
Disebutkan pula bahwa produk IT memang mahal tetapi sebenarnya akan terasa murah jika dibanding dengan apa yang dapat diperoleh melalui perangkat TI. Disarankan pula untuk membeli produk TI yang hanya benar-benar kita butuhkan.
Pembicara kedua Arif Budiono dari Jakarta menuturkan, batasan internet sehat adalah atas kemanfaatan. Jika internet dinilai positif dan bermanfaat bagi penguna, maka disebut internet sehat. Sedangkan bila internet digunakan untuk hal-hal negatif maka bisa disebut internet tidak sehat. Pemanfaatan internet secara benar sangatlah penting, sehingga bisa menghindari penyalahgunaan yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Sebaliknya pemanfaatan secara benar akan mencerdaskan masyarakat dan menopang kejayaan bangsa.
”Hakikat internet hanyalah sebuah alat tergantung pemakaiannya, bisa mewujudkan cita-cita, gagasan atau bahkan gerakan. Namun sebaliknya, dapat pula mengkaburkan cita-cita tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa penetrasi internet bersifat global dan demokratis, serta tidak mengenal batas wilayah. Sebagai kompilasi informasi global, internet juga bersifat kompetitif, hanya informasi yang berkualitas saja yang akan bertahan dan diakses pengguna.”katanya.
Dikatakan pula, untuk menjawab tantangan global diperlukan pengembangan konten berbasis budaya lokal dalam berbagai versi, bentuk dan kemasan digital untuk pemacu daya saing bangsa sekaligus penggerak ekonomi berbasis pengetahuan.
”Melalui internet diharapkan kekayaan budaya lokal sebagai warisan leluhur yang beragam akan mampu difungsikan untuk meredam serta mengadopsi hal-hal yang bersifat positif dari barat.”katanya.
Arif Budiono juga menyampaikan rambu-rambu dalam berinternet; misalnya tidak memberikan data pribadi secara sembarangan terlebih dengan menggunakan fasilitas umum seperti warnet, waspada dalam membuka e mail yang tidak dikenal, perlunya memasang aplikasi piranti lunak internet filter, menghapus jejak informasi agar tidak disalah gunakan oleh orang lain. (tri)
|
|
|
|
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|