Jakarta- (APTEL), Posisi Indonesia masih dominan sebagai konsumen daripada produsen dan masih tertatih-tatih dalam industri teknologi informasi (TI) serta terlalu banyak dana yang dihabiskan untuk keperluan belanja saja. Hal itu dikemukakannya saat membuka Festival Komputer Indonesia ke-9 & Indonesia Celullar Show 2007 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (27/6). ”Terlalu banyak dana dihabiskan untuk belanja saja. Kita tidak ingin Indonesia jadi konsumen yang terbaik, tapi kita juga perlu menjadi produsen yang terbaik," katanya. Lebih lanjut Menkominfo mengatakan, belanja Indonesia untuk segmen terkait TI terus bertambah setiap tahunnya. Pengadaan komputer untuk pendidikan saja, ujar Nuh, bisa menghabiskan Rp 1,3 triliun per tahun. Mohammad Nuh juga menghimbau agar industri TI di Indonesia tak selalu berkompetisi tapi juga melakukan kerjasama. Nuh mencontohkan penggunaan bersama satu tower pemancar telekomunikasi untuk beberapa operator telekomunikasi. Hal serupa diharapkannya bisa dilakukan di sektor-sektor lain dalam industri TI dan yang terkait. *** Sementara itu pada kesempatan lain Muhammad Nuh berharap pemilik infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi mau saling berbagi sumber daya yang mereka miliki. Mulai dari menara hingga saluran serat optik. Hal itu dikemukakan M. Nuh setelah meresmikan pusat pelatihan teknologi kerjasama Huawei dan Universitas Indonesia di Kampus UI, Depok, Rabu (27/6). Menurut Nuh saat ini banyak pihak memiliki infrastruktur yang sebenarnya bisa digunakan bersama-sama. Ia mencontohkan menara telekomunikasi yang dimiliki banyak operator. "Kenapa harus banyak antena. Kenapa tidak satu saja digunakan bersama-sama, lalu bersaingnya di sisi layanan?" tegasnya. Nuh berharap semua pihak itu mau saling berbagi dan mengintegrasikan sumber daya mereka. "Itu akan lebih hemat biaya," tandasnya. Hal senada dikatakan Dirjen Postel saat membuka workshop bertajuk membangun infrastruktur dan perangkat komunikasi di lembaga pemerintah di Hotel Millinium Jakarta, Rabu (27/6), bahwa sebaiknya pembangunan BTS disinergikan untuk keperluan operator lainnya. ”Operator yang membangun BTS paling pertama di daerah, sebaiknya sudah memperkirakan beban untuk operator lainya sehinga diharapkan dengan sharing infrastuktur akan menghematan biaya. Selain itu tower yang berdekatan menganggu estetika dan tata ruang, ” jelasnya. (bts).