Yogyakarta - (dayatel), Integrasi Community Access Point (CAP) yang digulirkan Depkominfo merambah ke radio komunitas. Sebelumnya CAP ini berbasis wartel-warnet, pramuka, pesantren, dan sekolah. Dalam implementasi CAP perlu pemanfaatan teknologi dan optimalisasi telekomunikasi, sehingga masyarakat lebih cepat mendapat informasi, untuk itu perlu disiapkan perangkat internet yang diintegrasikan dengan kepentingan masyarakat terutama di daerah-daerah perbatasan. Hal itu dikatakan Direktur Pemberdayaan Telematika Bambang Soeprijanto di Hotel Saphir Jl. Solo, Rabu (30/5). “Diharapkan konsep integrasi radio komunitas dengan masyarakat berbasis internet lahir dari Yogyakarta yang selama ini kita kenal gudangnya intelektual. Konsep ini yang nanti akan diterapkan di daerah-daerah perbatasan sehingga masyrarakat lebih cepat mengakses informasi yang dibutuhkan.”katanya. Work Shop ini menampilkan 2 narasumber Akhmad Nasir dari Combine Resource Institution dengan judul, mengawinkan Community Access Point (CAP) dengan Radio Komunitas. Sedangkan narasumber Hagung Hendrawan Koordinator Kemitraan di Oxfam Great Dritain (OGB). Acara ini dimoderatori oleh Arif (Kepala BPPI Yogyakarta). Dalam kesempatan tersebut Hagung mengatakan, telesenter bisa jadi salah satu cara untuk mengakrabkan, mempromosikan, memasarkan, penggunaan internet kepada individu yang datang ke telecenter. Namun kebudayaan Nesw on demand melalui internet bukankah menghadirkan tatanan di masyarakat individu mencari informasi yang diinginkan. “Pemain teknologi ini yang memperoleh manfaat finansial atas konsumsi itu. Apakah ini berarti win-win solution atau win-win los solution ; dimana manfaat atas internet based news on demand terhadap sebuah komunitas?” ujarnya. Sementara itu Ahmad Nasir memberikan contoh integrasi CAP yang dilengkapi dengan radio komunitas adalah telecenter Semeru di Kecamatan Pasrujambe, Lumajang, Jawa Timur. Dikatakan CAP ini berdiri pada tahun 2005 dan dimaksudkan sebagai inisiatif TIK untuk mengurangi angka kemiskinan. Tetapi pada perkembangannya masyarakat belum memanfaatkan keberadaan CAP ini secara optimal. Beberapa kendala yang dialami oleh CAP antara lain; kurangnya ketrampilan TI masyarakat, jarak ke lokasi CAP, biaya akses, penguasaan bahasa, anggapan bahwa TI sulit dipelajari, belum tahu pemanfaatan CAP. "Menyadari kendala tersebut, pengelola CAP berinisiatif mendirikan radio komunitas. Berbagai program telah dirancang untuk menjembatani kebutuhan informasi masyarakat melalui CAP, antara lain dengan mengalihbahasakan informasi dari internet ke bahasa daerah, menyediakan layanan kartu informasi *mengubah kebiasaan warga yang memesan lagu lewat radio menjadi memesan pencarian informasi lewat internet yang hasilnya disiarkan melalui radio komunitas, dan sebagainnya)."katanya. Work Shop dihadiri oleh 30 peserta yang terdiri dari; radio komunitas, UKM,LSM, unsur pendikan dan Warnet. (in/tri).