Pembentukan komunitas Relawan telematika sangat diperlukan guna pemberdayaan masyarakat untuk mengenal, menggunakan dan memanfaatkan ICT. Hal itu dikatakan Direktur Pemberdayaan Telematika, Bambang Soeprijanto di Jakarta.(16/1). Lebih lanjut ia mengatakan bahwa berbagai komunitas pengguna Telematika, seperti Microsoft User Groups (MUG), Kelompok Linux Indonesia, Kelompok Open Source, Kelompok Pengembang Aplikasi dan lain-lain, yang sejak awal telah berhimpun secara mandiri guna membantu pemberdayaan masyarakat, selanjutnya dapat juga dikembangkan untuk memfasilitasi berbagai program yang bersifat lintas kepentingan, kelompok dan bahkan wilayah atau sektor. "Diantara para pengguna atau penggemar Telematika, bermodalkan sikap, kemampuan teknis, keterampilan penguasaan Telematika serta pribadi suka menolong, dan solidaritas, dapat ditumbuhkan pembentukan Kelompok Relawan Telematika Indonesia (Indonesias Volunteers Internet Program - IVIP). "katanya. Ditingkat Pusat, embrio untuk pembentukan Relawan Telematika sudah dimulai dengan kegiatan Bimbingan Teknis/ Workshop ICT dan Pemanfaatan aplikasi bisnis bagi 175 pemuda dari seluruh propinsi di Indonesia yang menjadi peserta Kemah Kesatuan Pemuda tingkat Nasional, pada 26 Juli 2006, bekerjasama dengan Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Kegiatan senada dilakukan dalam bentuk Workshop ICT Camp & Hand on Experience bagi 24 pegawai negeri sipil dan 24 mahasiswa/siswa yang dipilih untuk pelatihan bersama dengan 4 Relawan Internet dari Korea Selatan (Korea Internet Volunteers Global Ubiquitous Program), sejak 7 hingga 23 Agustus 2006 bertempat di Gedung Pos Ibukota, bekerjasama dengan MICT dan KADO Korea. Alumni dari kedua forum tersebut, diharapkan akan membentuk jejaring kerja virtual melalui mailing list dan kolaborasi dalam wadah FK5T, agar dapat meneruskan misi serupa bagi pembangunan masyarakat dan daerah serta dilingkungan kerja masing-masing. Lebih lanjut, Bambang Soeprijanto mengatakan, untuk kedepan, para Relawan Telematika Indonesia tadi idealnya ditingkatkan kemampuan teknis, organisatoris dan manajerial, sehingga mampu berkiprah dalam berbagai kondisi nyata ditengah masyarakat. Termasuk untuk mengantisipasi dan menanggulangi situasi darurat pasca bencana, yang lazimnya berupa tantangan membangun infrastruktur yang luluh lantak terkena bencana sebelumnya. (tri)